Sabtu, 07 Mei 2016

Handhole Landscapers47





LAGUNYA CHOOOOYYYY ahahahahaahaaa :p

Teman yang Baik?

Bagi saya, menjadi teman yang baik itu sebenarnya cukup sederhana, dun tugasnya pun sangatlah mudah. 
- Teman yang baik itu tidak terlalu perlu untuk bisa selalu ada di setiap waktu untuk di samping kita, karena memprioritaskan teman bukan berarti harus mengabaikan tanggung jawab yang lain. Maka pengertianlah.
- Teman yang baik juga bukanlah mereka yang selalu setuju dan membela kita di setiap pendapat. Karena teman yang baik selalu menasehati, dan menyampaikan hal-hal yang benar kepada kita jika kita berbuat salah. 
- Akan tetapi, menjadi seorang teman yang baik itu, sudah terlalu lebih dari cukup jika ia mampu menjaga rahasia temannya. Tugasnya pun sangatlah mudah, diam dan jangan mulai bicara. Karena kesunguhan yang sesungguhnya bukan melulu apa yang terjadi di depan mata, melainkan apa yang terjadi di belakang sana.

#random

Jumat, 19 Februari 2016

Peran Masyarakat 'Normal' dalam Mengatasi LGBT

     Berbicara tentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender/transeksual), secara keseluruhan dan sangat mutlak, saya sangat tidak setuju kalau LGBT itu dilegalkan. Dan saya juga sangat tidak setuju kalau mereka (para LGBT) itu harus mendapat perlakuan yang tidak layak dari masyarakat. Seperti disingkirkan dari masyarakat atau mungkin di-bully habis-habisan. Justru, inilah peran kita sebagai manusia (yang merasa) 'normal' untuk bisa mengajak dan menyemangati mereka untuk bisa berhenti dari kelainan ini. Kita sebagai masyarakat punya peran yang besar untuk bisa membawa lingkungan yang positif buat mereka. Bukan malah nge-bully. Dan dari pihak LGBT-nya pun juga harus ada kemauan buat berubah. Diniatkan dengan sungguh-sungguh. Intinya, harus ada kerjasama antara pengidap LGBT dengan kita sebagai masyarakat. Para LGBT juga harus mau terbuka tentang masalah psikologis yang mereka alami. Kalau memang si LGBT merasa malu untuk menyembuhkan diri, ada banyak kok dokter-dokter psikologi yang bisa ditemui secara pribadi atau rahasia. Dan saya yakin, penyakit ini pasti bisa disembuhkan. PASTI.
       Dan begitu juga untuk pemerintah, pemerintah punya peran yang besar dalam masalah ini. Pemerintah harus segera berupaya buat mendukung perubahan mereka ke arah yang lebih baik. Misalnya, menyediakan lebih banyak lagi dokter-dokter psikologis di setiap daerah, atau solusi-solusi positif lainnya. Yah, walaupun kenyataannya tidak semudah membalikan telapak tangan, tapi kita semua harus yakin, pasti bisa.
     "Hanya karena seseorang pernah jalan di arah yang salah, bukan berarti orang itu harus tersesat selamanya kan?"
      Pokoknya, buat kamu yang sekarang mengidap penyakit LGBT, semangat aja terus, yakin aja kalau niatmu pengen berubah, dan harus mau berubah, gak ada yang terlambat kok asalkan dimulai dari sekarang. Saya juga pernah melakukan banyak kesalahan, walaupun dalam kasus yang berbeda, tapi ini membuat saya mengerti betul bagaimana berada di posisi orang yang bersalah. Rasanya pasti gak damai banget, dan gak nyaman. Makanya, untuk umur yang gak tau entah sampai kapan ini, mending kita sempatkan untuk berdamai dengan diri kita. Buatlah diri kita nyaman dengan melakukan hal yang benar. Menjadi LGBT itu gak pernah ada sisi baiknya, baik secara agama maupun secara  ilmu pengetahuan. Saya yakin kok, Tuhan itu Maha Baik, Dia selalu memberi kita harapan dan kesempatan. Semangat... semangat...
      Dan untuk kita yang berperan sebagai tokoh masyarakat, stop bullying ya. Mari kita sama-sama berbenah :)

   #respect